Kamis, 07 April 2011
TIGA TOKOH PENAKLUK
Mungkin banyak orang tidak pernah mengenal tiga sosok pria yang sangat berjasa kepada VOC di era tahun 1600an,
tidak bisa dipungkiri lagi kalau tiga orang tersebut adalah, Cornelis Janszoon Speelman, Kapitan jonker dan
Arung palakka.
Cornelis Janszoon Speelman adalah seorang pria belanda yang berasal dari Rotterdam. Speelman lahir pada tanggal 3 maret, 1628, dan orang tuanya adalah seorang pedagang di Rotterdam.
Speelman adalah seorang Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang ke 14 antara tahun 1681 - 1684, speelman yang berhasil merebut
surabaya dari mataram dan trunajaya, Speelman sendiri menjadi legenda karena berhasil membuat Sultan Hasanuddin kalah dalam sebuah perlawanan paling dahsyat dalam sejarah peperangan yang pernah dialami VOC.
Kapitan jonker adalah pria Maluku yang berasal dari manipa seram barat, ini terdapat dalam sebuah akte pada
tahun 1664 sebagai JonckerJouwa de Manipa. Jonker diangkat diangkat menjadi seorang kapitan pada saat pertempuran VOC disrilangka, dimana Raja Thalele mengalami luka parah, dan pada saat itu Jonker diangkat menjadi seorang kapitan. Kapitan Jonker terlibat di berbagai medan perang lainnya dalam membantu VOC, antara lain di Timor, pantai barat Sumatera, Sulawesi,
pantai timur Jawa, Palembang dan Banten. Dalam salah satu pertempuran terakhirnya yang berlangsung selama tujuh tahun (1675 - 1682) melawan Trunojoyo.
Trunojoyo adalah seorang bangsawan Madura yang pernah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Amangkurat I dan Amangkurat II dari Mataram. Trunojoyo ditangkap dilereng gunung kelud pada tanggal 27 desember 1679, dan diserahkan kepada Amangkurat II yang berada dipayak Bantul pada 2 januari 1680 dan dihukum mati.
Yang ketiga adalah Arung palakka, pria bugis bone ini lahir diLamatta, Mario-ri Wawo, Soppeng, 15 September 1634,
Arung palakka adalah seorang keturunan bangsawan yang melarikan diri bersama pengikutnya dari cengkeraman Sultan Hasanuddin.
Arung Palakka sangat populer saat berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC, dimana saat rakyat Minang mengamuk karena menolak perjanjian painan yang bertujuan untuk memonopoli perdagangan di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Arung palakka yang dikirim VOC berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutuskan hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah, Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.
Ketiga tokoh yang teralienasi ini adalah horor bagi jagoan di masa itu khususnya di Batavia. Speelman adalah petinggi VOC yang jauh dari pergaulan VOC.
Dia tersisih dari pergaulan karena terbukti terlibat dalam sebuah perdagangan gelap saat masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel tahun 1665.
Arung Palakka adalah pangeran Bone yang hidup terjajah dan dalam tawanan Kerajaan Gowa. Ia memberontak dan bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bone ini disebut To Angke atau orang Angke.
Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Maluku. Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat didaerahnya dan pada akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia dan diberikan rumah serta tanah yang luas di daerah Marunda dekat Cilincing kepadanya.
Tiga Pria inilah yang mempunyai andil besar untuk mengantarkan VOC pada puncak kejayaannya pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker.
Tidak heran kalau ketiga tokoh ini menjadi tulang punggung kekuatan VOC pada masa itu.
Sayangnya, kisah menajubkan tiga pria perkasa ini harus berakhir dalam waktu yang tidak lama saat musuh Speelman yaitu perwira asal Perancis bernama Isaac declornay de Saint Martin langsung bergerak. Komandan perang yang memenangkan peperangan di Cochin, Colombo, Ternate, Buton, Jawa Timur, dan Jawa Barat ini,
berhasil mengungkap semua korupsi dan keculasan Speelman hingga akhirnya Speelman disingkirkan dari posisi Gubernur Jenderal.
Speelman meninggal pada tanggal 11 Januari, 1684 di benteng Batavia, ia meninggal
dengan cara disalibkan dan ditembakan dengan 229 meriam, Isaac juga berhasil memengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk menyingkirkan Kapiten Jonker. Wilayah kekuasaan pria Maluku ini yang terletak didaerah Pejonkeran Marunda dikepung, kemudian diserang.
Kapiten Jonker tewas terbunuh dalam penyerbuan itu, Pengikutnya dibunuh dan keluarganya diasingkan ke Colombo dan Afrika, Arung palakka kembali daerahnya dan meninggal pada tanggal 6 April tahun 1696 dan dimakamkan di Bontobiraeng.
tidak bisa dipungkiri lagi kalau tiga orang tersebut adalah, Cornelis Janszoon Speelman, Kapitan jonker dan
Arung palakka.
Cornelis Janszoon Speelman adalah seorang pria belanda yang berasal dari Rotterdam. Speelman lahir pada tanggal 3 maret, 1628, dan orang tuanya adalah seorang pedagang di Rotterdam.
Speelman adalah seorang Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang ke 14 antara tahun 1681 - 1684, speelman yang berhasil merebut
surabaya dari mataram dan trunajaya, Speelman sendiri menjadi legenda karena berhasil membuat Sultan Hasanuddin kalah dalam sebuah perlawanan paling dahsyat dalam sejarah peperangan yang pernah dialami VOC.
Kapitan jonker adalah pria Maluku yang berasal dari manipa seram barat, ini terdapat dalam sebuah akte pada
tahun 1664 sebagai JonckerJouwa de Manipa. Jonker diangkat diangkat menjadi seorang kapitan pada saat pertempuran VOC disrilangka, dimana Raja Thalele mengalami luka parah, dan pada saat itu Jonker diangkat menjadi seorang kapitan. Kapitan Jonker terlibat di berbagai medan perang lainnya dalam membantu VOC, antara lain di Timor, pantai barat Sumatera, Sulawesi,
pantai timur Jawa, Palembang dan Banten. Dalam salah satu pertempuran terakhirnya yang berlangsung selama tujuh tahun (1675 - 1682) melawan Trunojoyo.
Trunojoyo adalah seorang bangsawan Madura yang pernah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Amangkurat I dan Amangkurat II dari Mataram. Trunojoyo ditangkap dilereng gunung kelud pada tanggal 27 desember 1679, dan diserahkan kepada Amangkurat II yang berada dipayak Bantul pada 2 januari 1680 dan dihukum mati.
Yang ketiga adalah Arung palakka, pria bugis bone ini lahir diLamatta, Mario-ri Wawo, Soppeng, 15 September 1634,
Arung palakka adalah seorang keturunan bangsawan yang melarikan diri bersama pengikutnya dari cengkeraman Sultan Hasanuddin.
Arung Palakka sangat populer saat berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC, dimana saat rakyat Minang mengamuk karena menolak perjanjian painan yang bertujuan untuk memonopoli perdagangan di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Arung palakka yang dikirim VOC berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutuskan hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah, Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.
Ketiga tokoh yang teralienasi ini adalah horor bagi jagoan di masa itu khususnya di Batavia. Speelman adalah petinggi VOC yang jauh dari pergaulan VOC.
Dia tersisih dari pergaulan karena terbukti terlibat dalam sebuah perdagangan gelap saat masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel tahun 1665.
Arung Palakka adalah pangeran Bone yang hidup terjajah dan dalam tawanan Kerajaan Gowa. Ia memberontak dan bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bone ini disebut To Angke atau orang Angke.
Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Maluku. Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat didaerahnya dan pada akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia dan diberikan rumah serta tanah yang luas di daerah Marunda dekat Cilincing kepadanya.
Tiga Pria inilah yang mempunyai andil besar untuk mengantarkan VOC pada puncak kejayaannya pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker.
Tidak heran kalau ketiga tokoh ini menjadi tulang punggung kekuatan VOC pada masa itu.
Sayangnya, kisah menajubkan tiga pria perkasa ini harus berakhir dalam waktu yang tidak lama saat musuh Speelman yaitu perwira asal Perancis bernama Isaac declornay de Saint Martin langsung bergerak. Komandan perang yang memenangkan peperangan di Cochin, Colombo, Ternate, Buton, Jawa Timur, dan Jawa Barat ini,
berhasil mengungkap semua korupsi dan keculasan Speelman hingga akhirnya Speelman disingkirkan dari posisi Gubernur Jenderal.
Speelman meninggal pada tanggal 11 Januari, 1684 di benteng Batavia, ia meninggal
dengan cara disalibkan dan ditembakan dengan 229 meriam, Isaac juga berhasil memengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk menyingkirkan Kapiten Jonker. Wilayah kekuasaan pria Maluku ini yang terletak didaerah Pejonkeran Marunda dikepung, kemudian diserang.
Kapiten Jonker tewas terbunuh dalam penyerbuan itu, Pengikutnya dibunuh dan keluarganya diasingkan ke Colombo dan Afrika, Arung palakka kembali daerahnya dan meninggal pada tanggal 6 April tahun 1696 dan dimakamkan di Bontobiraeng.
Langganan:
Postingan (Atom)